Klinik Herbal Pengobatan Alternatif

Obat Herbal
Sigit Purnomo adalah seorang pengangguran, menggantungkan hidup di kota yang penuh kepahitan. Jangankan membeli barang mewah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah keteteran.

Dengan padatnya penduduk yang tidak di imbangi dengan lowongan pekerjaan yang memadai, ditambah pendidikan Sigit yang hanya lulusan sekolah menengah atas, ia harus berfikir keras menemukan celah ditengah krisis yang melanda.

Kesana-kemari melamar kerja slalu ditolak, lalu iseng-iseng baca koran. Ia melihat sebuah kabar berita tentang praktik pengobatan ilegal yang semakin meraja lela. Tiba-tiba dibenaknya muncul sebuah ide "bagaimana jika saya membuka klinik pengobatan, siapa tahu ada yang datang untuk berobat, kan lumayan" begitu gumam Sigit.

Beberapa hari kemudian, ia menyewa sebuah rumah kecil untuk membuka praktik pengobatan alternatif. Sebagai langkah awal, Sigit mengambil strategi periklanan. Ia mulai mempromosikan klink barunya yang dinamai KLINIK JOM BANG di berbagai media, termasuk juga media online.

Iklan Sigit cukup fantastis, dimana pada deskripsi tertulis "Jika Anda sembuh, bayar 100 ribu. Jika Anda tidak sembuh, kami beri Anda uang kes sebesar 1 juta!"

Rupanya tekniknya bisa dibilang berhasil. Satu persatu pelanggan mulai berdatangan. Entah kebetulan atau apalah, meski tanpa ilmu pengetahuan yang memumpuni, pasien 100% sembuh. Hingga pada akhirnya, rumah sakit menjadi sangat sepi karena kehilangan banyak pasien berpindah ke KLINIK JOM BANG.

Mengetahui hal ini, banyak pihak yang penasaran, seperti apa keampuhan klinik milik Sigit ini, termasuk salah satunya adalah seorang Dokter muda yang tinggal tak jauh dari lokasi klinik.

Dokter tersebut penasaran sekaligus ingin mendapatkan keuntungan dengan berpura-pura berobat dan tidak sembuh agar mendapat ganti rugi sebesar 1 juta rupiah seperti yang di janjikan pemilik klinik tersebut.

Sesampainya dokter ditempat KLINIK JOM BANG!!

"Sakit apa, pak?"
"Lidah saya tidak bisa merasakan, sehingga saya jadi kehilangan selera makan."
"Oh. Penyakit yang bapak alami bisa disembuhkan dengan obat kami nomor 77"

Sigit lalu mengambil obat di dalam rak nomor 77, lalu berkata

"Ini sirup ajaib, silahkan teteskan ke lidah bapak sebanyak 3 tetes per Jam selama satu minggu. Agar lebih cepat sembuh, langsung beri 2 tetes mulai dari sekarang."

Dokter tersebut lalu meneteskan cairan hitam ke mulutnya dan teriak.

"Anda mau membunuh saya? Ini TAI ayam, bukan obat!"

"Nah, lidah bapak sudah bisa merasakan sekarang. Silahkan bayar 100 ribu!!"

Dengan berat hati si Dokter membayar 100 ribu untuk tahi ayam tersebut. Karena masih ingin mendapatkan uang 1 juta, dokter datang lagi seminggu kemudian.

"Loh, bapak kan yang waktu itu mengalami gangguan selera makan, apa penyakit bapak kumat lagi?" tanya Sigit, penasaran.

"Saya gak tau dengan yang Anda bicarakan, saya lupa ingatan." jawab dokter pelan

"Hmm begitu ya. Lupa ingatan adalah penyakit yang berbahaya, tapi kami sudah punya obatnya, yaitu sebuah sirup ajaib nomor 77".

"Gak mau! Itu TAI ayam yang kemarin kan?"

"Alhamdulillah, penyakit pikun bapak sudah sembuh, silakan bayar 100 ribu!!"

Dokter merasa tertipu 2 kali, ia benar-benar tak habis pikir kenapa ia bisa dibodohi tukang klinik palsu tersebut. Tapi ia masih teringat dengan ganti rugi sebesar 1 juta jika tak sembuh, lalu ia putar otak untuk gantian menipu tukang klinik. Setelah berjam-jam, akhirnya menemukan ide, lalu esoknya Dokter berobat lagi ke KLINIK JOM BANG.

"Saya kira bapak sudah sembuh, kambuh lagi ya, Pak?" tanya Sigit sok peduli.
"Iya, tapi sekarang mata saya jadi rabun sehingga tidak bisa melihat dengan jelas."

Sigit si tukang klinik coba mencari obatnya di rak. Setelah setengah jam mencari, ia berkata.

"Mohon maaf, pak. Obat untuk penyakit bapak lagi kosong. Seperti janji saya, sebagai ganti ruginya, saya akan kasih uang 1 juta rupiah"

(Sigit lalu menyodorkan uang seribu rupiah ke Dokter tersebut)

"Ini penipuan.!! Anda tidak menepati janji, uang ini hanya seribu rupiah, bukan 1 juta. Mana sisanya?" bentak Dokter mulai emosi tingkat dewa.

"Syukurlah, akhirnya bapak sudah bisa melihat dengan jelas sekarang. Jadi, bapak harus bayar 100ribu"

CERITA LUCU TERKAIT

CERITA LUCU TERBARU